Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 November 2015

✿ Kuliner di Kediri : ‘Soto Ayam Pakelan Ny. Sien (Ayam Kampung)'.


[Tempat Kuliner di Indonesia]
✿ Kuliner di Kediri : ‘Soto Ayam Pakelan Ny. Sien (Ayam Kampung)'.

Saatnya mudik ke kampung halaman di Kediri. Inilah momen yang menyenangkan dan selalu ditunggu-tunggu. Kami bisa menikmati liburan bersama keluarga tersayang, bertemu Ibunda dan bersilaturahmi dengan saudara-saudara di Kediri.


Saat mudik… adalah saatnya menikmati kuliner di kota Kediri. Tampat makan (kuliner) yang enak, menarik, harga tidak terlalu mahal, dengan menu yang bervariasi di Kediri sangatlah banyak. Disini ada beberapa tempat makan yang kami kunjungi bersama keluarga, adik-adik dan keponakan saat liburan di Kediri.


Tapi ulasan ini relatif, yaaa... berdasarkan selera dan pengalaman kami.
‘Soto Ayam Pakelan’, ciri khas ‘Soto Ayam Pakelan’ : mangkoknya besar berbentuk hati, mengenai rasanya… ditanggung enak dan nikmaatt.

Alamatnya :
Soto Ayam Pakelan Ny. Sien (Ayam Kampung)
Jl. Untung Suropati No. 1-3, Kediri
.

Buka : mulai pukul 08.00 WIB. sampai siang.


Sumber : http://fadjarer.blogspot.co.id/2015/


Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya
¤ Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan
¤ Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya
¤ Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah
¤ Bagi laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
¤ Bahagiakanlah keluarganya
¤ Luaskan rezekinya seluas lautan
¤ Mudahkan segala urusannya
¤ Kabulkan cita-citanya
¤ Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji
¤ Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar.
Aamiin ya Rabbal'alamin.





✿ Kuliner di Kediri : Tempat Makan Soto Ayam Enak di Kediri, Soto Pojok, Kediri.


[Tempat Kuliner di Indonesia]
✿ ✿ Kuliner di Kediri : Tempat Makan Soto Ayam Enak di Kediri, Soto Pojok, Kediri.

Nama tempat makan ini sesuai dengan posisinya, paling ujung alias pojok, tak heran jika namanya kemudian menjadi Soto Pojok. Bangunan yang ditempatinya juga khas bangunan seperti jaman dulu, dengan polesan interior yang versi lama punya, seperti botol minuman yang di taruh berjejer di lagur yang menempel di dinding. 

Meja panjang dengan bangku yang panjang pula menjadi tempat pengunjung menyantap soto. Biasanya penataan seperti ini menjadi ciri khas rumah makan di kota kecil di Jawa pada umumnya.


Menu yang menjadi andalan dari tempat ini adalah Soto Ayam dengan kuah bening. Pilihannya bisa soto daging saja atau soto dengan jerohan ayam (uretan, telor muda plus ati ampela). Dan cara penyajiannya cukup unik, yaitu nasi di taruh setengah menggantung dengan kuah dibawahnya. Hmmm… baru sekali ini aku menyantap soto dengan model seperti ini.


Rasanya? Hmmm… enak juga, apalagi jika kita tambahkan jeruk nipis, sambal dan tentu saja kecap. Hmmm… rasanya segar, aneka kerupuk menjadi pelengkap kepuasan menyantap semangkuk soto ayam di kota yang terkenal sebagai salah satu penghasil rokok di Indonesia ini. Jika anda suka, jangan lewatkan seporsi tahu goreng yang menjadi makanan andalan kota ini.

Alamatnya :
Soto Pojok, Jl. Dhoho 146, Kediri.

Sumber : http://www.infomakan.com/


Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya
¤ Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan
¤ Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya
¤ Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah
¤ Yang lai2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
¤ Bahagiakanlah keluarganya
¤ Luaskan rezekinya seluas lautan
¤ Mudahkan segala urusannya
¤ Kabulkan cita-citanya
¤ Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji
¤ Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar.
Aamiin ya Rabbal'alamin.

“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)



✿ Kuliner di Trenggalek : Menyantap 'Nasi Lodho' Pak Yusup Khas Trenggalek .



Ada sebuah rumah makan khusus menyediakan nasi lodho di Jalan Raya Kedung Lurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten, Trenggalek, Jawa Timur. Masuk sekitar 50 m ke kanan jalan (bila kita datang dari arah Tulungagung).

Bangunan rumah makan ini cukup sederhana. Namun, tatanan meja-meja makannya, serta interiornya cukup bagus, dan sangat yaman untuk beristirahat dari perjalanan, sambil menikmati menu nasi ladha yang disediakan.

Pemilik rumah makan ini adalah pasangan suami istri yaitu Muhamad Yusuf (66) dan Sutilah (48). Mereka menggeluti usaha rumah makan ini sejak Tahun 1990. Ketika ditemui Peduli untuk wawancara, Muhamad Yuyuf mewakilkan kepada sulungnya, Ayub Nuala’.




Rumah makan Nasi Lodho Pak Yusuf ini menu utamanya hanya nasi ladha ayam kampung. ’’Memang di sini hanya disediakan khusus nasi ladha saja, sedang minumannya hanya menyediakan kopi, teh, es jeruk dan minuman botol,’’ ujar Ayub. ’’Selain bisa dimakan di sini nasi ladha ini bisa dijadikan oleh-oleh, bahkan selama ini lebih banyak yang dijadikan oleh-oleh daripada dinikmati di sini,’’ lanjutnya.

Sudah delapan belas tahun bisnis kuliner ini berjalan. Kini Rumah Makan Nasi Lodo Pak Yusuf telah dikenal luas, tidak hanya di wilayah Trenggalek dan sekitarnya saja, tapi dari luar daerah cukup banyak yang telah mengenalnya, seperti Malang, Surabaya, bahkan menurut Ayub 80% pelangganya berasal dari luar daerah.




[Tempat Kuliner di Indonesia]
✿ Kuliner di Trenggalek : Menyantap 'Nasi Lodho' Pak Yusup Khas Trenggalek .

Saat ini Pak Yusuf telah mampu mempekerjakan 17 orang karyawan, yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu tukang sembelih ayam, jurumasak, dan pramusaji. Sementara urusan menejemen ditangani oleh Ayub, sedangkan untuk urusan peracik bumbunya sampai saat ini masih ditangani sendiri oleh Pak Yusuf bersama sang istri : Sutilah.

Menurut Ayub membuat menu nasi lodo ini tidak sulit-sulit amat. Pertama-tama yang harus disediakan adalah ayam kampung itupun dipilih yang masih muda, setelah disembelih ayam dibersihkan bulunya, lantas dihilangkan jeroannya kemudian dicuci sampai bersih.

Ayam yang sudah bersih lantas direbus setelah direbus kemudian dipanggang sampai matang, selanjutnya diberi bumbu (dimasukkan dalam kuah bumbu) dan langkah terakhir dikukus. 

Adapun bumbu lodo ini termasuk cukup lengkap yaitu, cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, kunir, merica, pala, asam jawa, daun sereh, daun pandan wangi dan garam dapur.

Semua bumbu ini menurut ayub disesuaikan dengan kebutuhan (berapa ayam yang akan dimasak) bahan-bahan tersebut semua dihaluskan kecuali daun sereh dan pandan wangi. Setelah halus maka bumbu diberi air secukupnya dan dijadikan kuah.

Nasi yang dipakai untuk menu nasi lodo ini adalah nasi gurih, yaitu nasi yang cara memasaknya seperti biasa hanya saja telah diberi bumbu garam dan santan kelapa, sehingga setelah masak rasanya menjadi gurih. 

Saat menyajikannya nasi ladha ayam ini masih diberi menu pendamping yaitu urap-urap. Karena prosesnya yang cukup panjang ini maka karyawannya sudah mulai bekerja sejak malam harinya. Namun, karena menurut Ayub masing-masing karyawan telah memiliki bagian sendiri-sendiri maka pekerjaan tersebut tetap berjalan dengan lancar.

’’Memang setiap karyawan telah memiliki jatah sendiri-sendiri, seperti tukang potong setelah selesai memotong dan membersihkan ayam ya diganti dengan karyawan yang bagian memasak demikian seterusnya, seperti halnya bagian meracik dan pramusaji ia hanya menangani bagiannya saja, Alhammdulillah hingga sampai saat ini setahu saya tidak banyak mengalami kendala, mungkin karena setiap karyawan sudah meyadari tanggung jawabnya masing-masing,’’ tutur Ayub Nualla. 

’’Hanya saja setiap menjelang hari Raya Idul Fitri sering kekurangan ayam,masalahnya permintaan setiap harinya meningkat tajam dalam sehari bisa terjual rata-rata 300 paket (ekor),” lanjutnya.

Untuk satu paket (satu ekor ayam + nasi) dijual dengan harga Rp 55.000 sedangkan untuk satu porsi untuk satu orang (satu potong ayam + nasi dan urap-urap) harganya Rp 20.000. 

Pada hari-hari biasa rata-rata Nasi Lodo Mbah Yusuf ini bisa menghabiskan sekitar 100 ekor ayam kampung. Untuk memenuhi kebutuhan usahanya menurut penuturan Ayub sampai saat ini ia belanja ayam sendiri.


Ya Allah... semoga yang membaca artikel ini :
¤ Muliakanlah orangnya
¤ Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan
¤ Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya
¤ Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah
¤ Yang laki2 entengkanlah
kakinya untuk melangkah ke masjid
¤ Bahagiakanlah keluarganya
¤ Luaskan rezekinya seluas lautan
¤ Mudahkan segala urusannya
¤ Kabulkan cita-citanya
¤ Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji
¤ Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar.
Aamiin ya Rabbal'alamin.


“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)


✿ TRANSTV : My Trip My Adventure - Nasi Lodho Bu Yati Tulungagung.


[Tempat Kuliner di Indonesia]
✿ TRANSTV : My Trip My Adventure - Nasi Lodho Bu Yati Tulungagung.

TRANSTV : My Trip My Adventure - Nasi Lodho Bu Yati Tulungagung, 24 Mei 2015. Di Tulungagung ada kebiasaan setiap pagi sebelum beraktifitas kerja dimulai dengan makan pagi atau sarapan.

Dan di Tulungagung kebiasaan sarapan pagi biasanya menyantap nasi lodho, ada tempat yang menjadi favorit para warga di Tulungagung untuk bersarapan nasi lodho, yaitu ‘Nasi Ldho Bu Yati’ yang tepatnya berada di Jalan Yos Sudarso, Tulungagung.

Kalau ada waktu ke Tulungagung bisa mencoba masakan Lodho Bu Yati ini yang rasanya makkk nyussssssssss.



Ya Allah... semoga yang melihat 'video' ini :
¤ Muliakanlah orangnya
¤ Yang belum menemukan jodoh semoga lekas dipertemukan
¤ Yang belum mendapatkan keturunan semoga cepat mendapatkannya
¤ Semoga tergerak hatinya untuk bersedekah
¤ Bagi yang laki2 entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
¤ Bahagiakanlah keluarganya
¤ Luaskan rezekinya seluas lautan
¤ Mudahkan segala urusannya
¤ Kabulkan cita-citanya
¤ Jauhkan dari segala Musibah, Penyakit, Prasangka Keji
¤ Jauhkan dari segala Fitnah, Berkata Kasar dan Mungkar.
Aamiin ya Rabbal'alamin.


“Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i)



 
;